Belajar Bank Sampah di Bantul Yogyakarta

30 April 2011

INDIPT bersama komunitas Tambakprogaten  belajar mengenai Bank Sampah di Bantul Yogyakarta, Selasa (26/04/11). Kegiatan ini diikuti empat orang perwakilan dari komunitas Tambakprogaten yaitu bapak Mualif, Ibu Sri, Ari dan Asep dengan didampingi dua orang dari Indipt yaitu Bahrun dan Humam Rimba.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana cara mengelola sampah. Selama ini khususnya di desa Tambakprogaten sampah masih banyak berserakan dan belum dimanfaatkan menjadi barang yang pada satu sisi menyuburkan tanama selain bernilai ekonomis. Kedatangan rombongan ini langsung disambut oleh Bambang, direktur Bank Sampah Gemah Ripah Bantul Yogyakarta.

Menurut Bambang, mengajak masyarakat untuk perduli terhadap sampah bukanlah hal yang mudah. Hal ini memerlukan perjuangan serta komitmen yang besar dengan memberikan pengetahuan dan pelatihan-pelatihan pemanfaatan sampah secara serius dan berkelanjutan. Sehingga lambat laun masyarakat yang tadinya tidak perduli terhadap sampah semakin mengetahui dan paham akan kemanfaatan sampah menjadi barang yang bernilai dan layak jual.
Bambang menceritakan awal pendirian bank sampah. “Awalnya sekitar tahun 2006 setelah bencana gempa melanda Yogyakarta dan sekitarnya banyak sampah yang berserakan di desa Badegan ini. Melihat banyaknya sampah-sampah plastik yang berserakan, kami mencoba untuk memberikan pengarahan dan pelatihan memanfaatkan sampah menjadi barang yang bernilai. Awalnya warga Badegan sulit untuk menerima konsep kami.
Namun perlahan dan dengan komitmen besar, masyarakat Desa Badegan mulai sadar dengan manfaat sampah bagi lingkungan. Selain lingkungan menjadi bersih, pengolahan sampah juga bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga dengan memanfaatkannya menjadi barang-barang kerajinan.
Selain berdiskusi tentang proses awal berdirinya Bank Sampah sampai sekarang ini serta proses pengolahannya, rombongan diajak ke sebuah toko tempat penjualan hasil pengolahan sampah menjadi barang kerajinan yang memiliki nilai harga di pasaran.
Sampah-sampah plastik yang sudah dipisahkan dari sampah yang lain dibuat menjadi kerajinan tas, dompet, pernak-pernik dan berbagai kerajinan yang lain.
Bimo, salah satu staff Bank Sampah, mengatakan bahwa saat ini masyarakat desa Badegan semakin pro aktif untuk memilah dan mengolah sampah. Selain pengolahan sampah menjadi barang kerajinan, saat ini Bank Sampah Gemah Ripah sedang merencanakan untuk pengolahan sampah menjadi pupuk kompos.
Tidak hanya dari warga desa Badegan saja yang telah menjadi anggota Bank Sampah Gemah Ripah ini, namun juga warga dari beberapa desa tetangga juga telah mendaftarkan diri menjadi anggota.
Bersama warga Tambakprograten, rencananya INDIPT akan membuat bank sampah serupa, walau dengan penekanan yang agak berbeda. Semoga pembelajaran di Bantul banyak manfaatnya. AMin. (Rimba)